Rapat Plus Plus

Pada akhir tahun 2007, saya mengikuti Rapat Kerja (Raker) yang diselenggarakan
oleh Group Perusahaan saya. Kegiatan Raker seperti itu sebenarnya hampir setiap
tahun di adakan, namun baru kali ini saya diajak sekaligus menjadi panitia dalam
kegiatan tersebut. Saya berharap dapat mengulang kejadian sebagaimana ketika
mengikuti Kursus Kearsipan (baca: Bonus Mengikuti Kursus). Pucuk dicnita ulam
tiba, begitulah peribahasa yang pas diucapkan, karena dari daftar peserta yang
masuk terdapat nama Wiwik, cewek yang pernah saya ajak kencan kira-kira 3 bulan
yang lalu sebelum Raker ini.

*****

Sebenarnya Rapat Kerja hanya diadakan selama 2 hari, namun atas usul para
peserta minta untuk diperpanjang 1 hari lagi guna memberi waktu bagi peserta
berwisata menikmati pemandangan alam Tawangmangu, suatu tempat rekreasi yang
sejuk di kaki Gunung Lawu.

Rapat Kerja ini diikuti para manajer yang ada di Kantor Pusat maupun kantor
perwakilan. Selain para manajer dan pimpinan, masing-masing kantor perwakilan
boleh menyertakan seorang staf administrasi sebagai penghubung peserta dengan
panitia dan juga sekaligus membantu panitia menyiapkan berbagai peralatan yang
diperlukan peserta Raker.

Untuk berangkat menuju ke Tawangmangu, perusahaan menyediakan sarana tranportasi
berupa bus full AC, full musik, namun banyak diantara para peserta yang membawa
kendaraan pribadi, termasuk saya. Tujuan adalah dengan membawa mobil pribadi
maka mobilitasnya lebih tinggi.

Sebagai panitia, saya datang lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan Raker
serta mengurus akomodasi bagi para peserta. Sengaja saya memilih kamar yang agak
mojok, dan hanya single bed. Karena hari Jum’at para peserta diharapkan sudah
check in sebelum Jum’atan, sedang Raker-nya sendiri baru akan dimulai setelah
Jum’atan.

Rombongan bus telah datang, nampak Wiwik dengan pakaian kantor yang cukup serasi
kelihatan lebih seksi dan cantik daripada waktu dulu pertama ketemu. Payudaranya
nampak lebih montok dan menantang. Hatiku jadi berdebar juga, dag dig dug
rasanya. Membayangkan seandainya punya kesempatan untul ML dengan Wiwik. “Siang
Wuk” sapaku sambil mengulurkan tangan ketika Wiwik memasuki lobby. “Oh.., siang
Om” jawabnya agak terkejut. “Om disini, sudah lama ya” lanjutnya. “Ya.., cukup
lama juga, kan aku ikut panitia, jadinya datang lebih awal” jawabku agak
sombong.

Setelah mendaftar ulang, kuberi tahu nomor kamar Wiwik ada beseberangan dengan
kamarku. Kebetulan pula bahwa peserta wanitanya ganjil, sehingga satu kamar yang
mestinya untuk 2 orang, maka kamar untuk Wiwik hanya satu orang saja. Ini memang
sudah kuatur agar aku dapat mengulang berkencan dengan Wiwik lagi. “Dasar buaya
darat” aku bergumam sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 11.45. Semua peserta yang akan ber-Jum’atan sudah
meninggalkan penginapan menuju tempat ibadah. Hanya beberapa peserta yang tidak
Jum’atan, termasuk aku dan Wiwik. “Tok, tok, tok”, kuketuk pintu kamar Wiwik.
“Masuk, nggak dikunci kok” terdengar jawaban dari dalam. Aku perlahan-lahan
membuka pintu dan ternyata Wiwik sedang santai saja menata barang bawaannya.
Wiwik sudah melepas blazernya dan hanya memakai atasan you can see serta nampak
kalau tak memakai bra. “Wuk, aku kangen padamu lho” kataku. “Ngrayu nih ye,
siang saja sudah merayu, gimana entar malam ya?” Wiwik menggodaku. “Kalau malam
ya nggak perlu ngerayu, kamu kan udah tanggap sendiri, iya kan?” “Idiih.., Om
kok semakin nakal kelihatannya” lanjutnya. “Habis.., susu kamu itu lho, yang
bikin aku..” kataku lagi. “Udahlah Om, kalau hanya itu ambil sendiri aja, tapi
jangan lama-lama lho” katanya lagi.

Jam di dinding kamar menunjukkan puul 12.00, berarti ada waktu kurang lebih 45
menit untuk berkencan dengan Wiwik siang itu. Ini waktu yang lumayan lama untuk
satu permaninan panas. Tanpa banyak cakap lagi mulai kukecup keningnya, lalu
kucium matanya, hidungnya, pipinya, dan mulutnya. Wiwik membalas dengan semangat
pula. Makin lama makin intensif aku meraba-raba seluruh tubuhnya, meremas-remas
susunya, dan Wiwik kelihatan semakin menikmati permainan ini.

Akhirnya mulai kulepas pakaian atasnya sehingga tampak dua bukit kembar yang
montok menantang. Segera kuemut-emut kedua bukit itu, kupermainkan lidahku di
putingnya, kugigit-gigit, dan kutarik-tarik dengan gigiku, nampak Wiwik
merintih-rintih menahan rasa antara sakit dan enak. “Oh.. Om.. oh.. ” desahnya
pelan. “Oh.. Wuk, kau semakin cantik dan menggairahkan” rayuku pula. “Oh.. Om,
terus-terusin Om.., Om.. teruus” Wiwik terus merengek.

Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman, melumat bibir,saling meremas,
entah berapa lama. Permainan terus berlanjut, Wiwik pun segera mengarahkan
tangannya ke daerah selangkanganku, mengelus dari luar celanaku. Tahu bahwa
“Adik”Ku telah bangun, Wiwik pun segera melepaskan sabuk dan selanjutnya
memelorotkan celanaku. Segera dikeluarkannya batang kemaluanku yang telah tegak
dan selanjutnya Wiwik mengemot-emot, memainkan lidahnya dikepala kemaluanku
dengan semangat. Hal ini untuk sementara membuatku lupa dengan istri dirumah
yang setia menungguku. “Oh.. Wuk, terus Wuk, teruuss.. enak Wuk, teruuss.. aku
akan keluar Wuk!” Dan crot, crot, crot.., muncratlah spermaku dalam mulutnya dan
sebagian lagi mengenai wajahnya yang cantik. Aku hanya memejamkan mata keenakan.
“Enak Om?” tanyanya. Aku hanya mengangguk, mulutku rasanya sulit berkata. “Aku
bersihkan ya Om” dan tanpa berkata lagi Wiwik mengulum-ulum batang kemaluanku,
menjilat-jilat membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel sampai bersih,
sih. “Ouch.. ouch.., Wuk” aku mendesah keenakan. Setelah merapikan pakaian aku
segera meninggalkan kamar Wiwik dan menuju kamarku. Kami telah dua kali
melakukan oral seks namun tidak berlanjut dengan ML. Dan keinginan untuk
meniduri cewek itu tetap terpatri dalam benakku.

Dua hari sudah (lebih tepat hanya satu setengah hari) para peserta Raker
berdiskusi, membahas berbagai macam persoalan yang ada serta menyusun strategi
untuk tahun mendatang. Untuk melepas lelah pada hari Minggunya para peserta
diberi kesempatan untuk rekrasi atau belanja oleh-oleh khas tawangmangu. Aku dan
Wiwik pun juga turut jalan bersama teman-teman lain. Sampai di pasar para
peserta Raker pun menyebar mencari apa yang dibutuhkan. Aku dan Wiwik pun
berjalan berdua untuk belanja. “Wuk, belanjanya nanti saja, ya!” kataku. “Kenapa
Om?” Wiwik pun bertanya. “Kita naik ke Hutan Wisata dulu yuk!” aku mengajaknya.
“Dimana Om lokasinya?” Wiwik bertanya lagi. “Kesana itu lho, dari sini menjuju
Grojogan Sewu, selanjutnya terus kita naik, disana ada pemandangan yang sangat
indah, kita bisa naik ke menara pengawas” lanjutku lagi. “Tapi ada syaratnya lho
Om” Wiwik pun berkata lagi. “Apa syaratnya?” aku balik bertanya. “Nanti kalau
aku kedinginan, Om tanggungjawab lho!” pintanya. “Oke, kalau itu syaratnya, saya
akan cari korek api dulu” sahutku. “Untuk apa Om? Wiwik pun bertanya lagi. “Ya
untuk menghangatkan, kalau kamu kedinginan” jawabku. “Om mulai nakal ya!” Wiwik
pun berkata sambil mencubit lenganku. Belum sampai lepas cubitannya, tangannya
kupegang, dan kugandeng melanjutkan perjalanan.

Kami berdua kadang bergandeng tangan dan tidak berjalan menyelusuri jalan
setapak menuju hutan wisata di atas grojogan sewu. Setelah sampai di menara
pengawas, aku mengajak Wiwik naik ke puncak menara melalui tangga yang cukup
tinggi. “Hati-hati lho Wuk, tangganya licin, karena kena embun” perintahku
kepadanya.

Walaupun hari itu Hari Minggu, namun kelihatannya tidak banyak pengunjung yang
sampai ke hutan wisata, sehingga suasana cukup sepi. Hanya terlihat beberapa
pasang muda-mudi yang agak jauh dari lokasi kami berada. Terlebih lagi pada saat
itu mulai turun hujan rintik-rintik. Untuk waktu itu kami sudah ada di puncak
menara, sehingga tidak kehujanan. Dari puncak menara ini kami bisa menikmati
pemandangan sekitar hutan. Disamping tidak kehujanan, juga kecil kemungkinannya
bertemu dengan binatang buas maupun yang lain. Yang kami sangat senang pada
waktu itu belum ada yang naik ke menara, sehingga kami hanya bedua saja di
menara pengawas itu.

“Gimana Wuk, indah kan?” aku mulai membuka pembicaraan. “Iya, sungguh indah,
menakjubkan sekali pemandangan alam dari sini ya Om” sahutnya. “Iya, sungguh
indah terlebih ada kamu disini, hal Ini mengingatkan aku waktu pacaran dulu, di
sini di tempat ini juga aku melakukan kissing, necking, dan etting untuk pertama
kali” sambungku pula. “Hayo Om mulai nakal ya, kalu sekarang ada aku apa Om mau
melakukan hal yang sama?” Wiwik bertanya. “Siapa takut!” sahutku. Aku segera
memegang kedua tangan Wiwik, lalu mendekapnya, selanjutnya kesentuh dengan jari
bibirnya yang mungil. “Aku ingin mengulangnya, Wuk? Mau kan kamu?” bisikku di
telinganya. Wiwik pun menganggukkan kepalanya. Aku segera mengecup keningnya,
kemudian mencium bibirnya, serta sekitar leher. Cukup lama kami berciuman.
Kuremas-remas kedua payudaranya yang mulai menegang. Selanjutnya kutanggalkan
jaketnya, terlihatlah pemandangan yang indah karena Wiwik ternyata hanya memakai
kaos singlet, sehingga kedua bukitnya sedikit mulai, kuning langsat, bersih,
sangat menggairahkan.

“Dingin Wuk?” tanyaku. “Ya dingin, mana ada tempat yang panas di Tawangmangu”
katanya ketus. “Oke, tempat ini akan segera kubuat menjadi lebih panas” kataku
lagi. Wiwik pun tak berkata lagi. Mulutku segera kuarahkan ke belahan dadanya.
Kucium, kukecup, dan kucupang hingga nampak merah dibeberapa tempat sekitar
payudaranya. “Berapa umurmu, Wuk?” aku coba bertanya. “Ngapain tanya umur
segala?” Wiwik balik bertanya. “Ketika pacaran dulu, cupangku di sekitar
payudara dan pusar sebanyak umurnya” sahutku. “Tebak, ayo berapa, kalau benar
nanti selain boleh menyupang sejumlah umurku juga akan kuberi bonus!”
perintahnya. “Bonusnya apa?” “Tebak dulu dong!”

Aku sebenarnya tahu umurnya, karena waktu mendaftar kulihat biodatanya. Umurnya
25 tahun, belum kawin. Mungkin Wiwik sengaja bertanya atau memang tidak
memperhatikan ketika pendaftaran ulang kulihat biodatanya. Aku justru bertanya
-tanya dalam hati. Ah, persetan dengan itu. “Dua puluh lima!” jawabku mantap.
“Kok Om tahu, hayo dari mana? Kalau ketahuan curang, nanti akan kutuntut!” “Lho
katanya suruh menebak, ya aku tebak saja, betulkan jawabanku, mana bonusnya?”
“Bonusnya terserah Om, pilih mana bagian tubuhku!” “Oke, aku minta ini, tapi
nanti malam” jawabku sambil memegang selangkangannya. “Nanti malam Om?” tanya
Wiwik bengong. “Terus gimana, nanti sore kan sudah selesai acaranya dan
rombongan bus akan pulang?” “Begini aja, kamu telpon do’i, malam ini tidak
pulang, karena menyelesaikan tugas merangkum hasil-hasil Raker, dan jangan
kuatir aku bawa mobil sendiri kok, besuk saya antar, oke!” kataku. “Oke deh,
sudah terlanjur kalah taruhan sama Om” lanjutnya.

Perlahan-lahan kupelorotkan kaos singletnya, kucopot kait BH-nya. Kini Wiwik
sudah tidak memakai pakaian atas. Pemandangan yang lebih indah kini terlihat
nyata. Dua bukit kembar, kuning langsat, sangat menarik untuk segera kukecup dan
kucupang sebagai tanda kemenanganku. Tak berlama-lama aku memandangi kedua bukit
itu, segera kuemut-emut, kugigit-gigit, kutarik-tarik putingnya dengan gigiku.

“Oh.. Om.. jangan kuat-kuat gigitnya, sakit, Ouh.. trus Om.. teruuss Om” Wiwik
mulai merengek-rengek. Kuremas, kukecup, kuemut dan terus kuemut bagai bayi yang
kehausan dan menetek ibunya. Untuk beberapa lama kegiatan ini kulakukan.
Selanjutnya aku berdiri, bersandar pada salah satu tiang penyangga dan Wiwik pun
jongkok di depanku terus melepas sabukku, melepas kancing celanaku, serta
menarik ritsluitingnya, segera memelorotkan celanaku. Batang kemaluanku sudah
berdiri menantang bagai tongkat komando. Wiwik pun tanpa banyak bicara segera
mengocok-ngocok dan mengemut-emut batang kontolku. Menjilat-jilat mulai dari
kedua buah pelir sampai pucuk kontol. Mengemut-emut lagi dan lagi.

“Oh.. Wuk, terus Wuk, teruuss..” aku meronta-ronta geli keenakan. Segera
kujambak rambutnya dan kumaju-mundurkan kepalanya. “Oh.. Wuk, terus Wuk,
teruuss.. aku akan keluar Wuk” Dan crot, crot, crot.., muncratlah spermaku dalam
mulutnya lagi. “Enak Om?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Kali ini aku bercumbu
di tengah hutan, di atas menara, didiringi rintik hujan yang sudah mulai mereda.
Dari arah tenggara sesekali terdengar deru mobil. Hari semakin siang, hujan suah
reda, beberapa pasang muda-mudi mulai berdatangan di hutan wisata dan sekitar
menara. Aku dan Wiwik segera membetulkan dan merapikan pakaian masing-masing dan
segera turun kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan menuju penginapan Wiwik
kugandeng, kadang kupeluk dengan mesra. Sampai di penginapan hampir semua
peserta telah berkemas-kemas bahkan ada yang sudah meninggalkan penginapan
menuju rumah masing-masing.

Kulihat Wiwik berjalan menuju Wartel dekat penginapan. Aku boleh merasa gembira,
karena akan dapat bonus dari Wiwik. Aku segera bergegas menuju kantor
penginapan, menginformasikan kepada penjaga bahwa aku dan seorang peserta lagi
pulangnya besok siang. Pemilik penginapan pun mengijinkan aku tetap bermalam di
penginapannya sampai esok hari. Bahkan masih disediakan makan malam dan sarapan
pagi.

Kulihat Wiwik telah selesai telpon di Wartel, namun tidak segera menuju
penginapan, tetapi mampir ke toko di seberang jalan. Kiranya Wiwik membeli
beberapa makanan kecil dan beberapa botol minuman suplemen. Wiwik pun berjalan
menuju tempat di lobby penginapan, setelah dekat kuminta dia untuk memindah
barang-barangnya ke kamarku.

Udara sore itu cukup dingin, aku tidak berani mandi, karena pemanas air di
penginapan rusak. Aku hanya membasuh muka, tangan dan kaki saja. Wiwik pun
demikian juga. Jam ditanganku menunjukkan pukul 19.00. Jatah makan malam yang
biasanya di restoran kali ini kuminta pada petugas untuk diantar ke kamar saja,
karena akan kumakan setelah berita TV jam 21.00, sebab sore ini aku telah makan
bakso di seberang jalan.

Kini di kamarku hanya aku dan Wiwik. “Wuk, mana bonusnya?” tanyaku membuka
percakapan. “Nih, ambil sendiri!” perintahnya. Aku segera memeluknya,
menciumnya, dan mulai melepaskan pakaiannya satu bersatu. Kini Wiwik telah
telanjang bulat. memeknya kelihatan kayak apem, bulat, empuk. Payudaranya yang
cukup besar, kenyal segera kuemut-emut, kesedot-sedot. Wiwik pun mulai
mengerang-erang. Kuhitung cupang yang ada disekitar payudaranya, ternyata baru
24. “Wuk, cupangannya baru 24, belum genap 25 lho” kataku. “Mau genepin atau
tidak terserah Om” katanya pula. “Nih. tak tambahi satu tempat lagi, biar genap
25” kataku. Segera kecupannya kuarahan ke memeknya. Kukecup-kecup memeknya,
kusedot-sedot lubang kewanitaanya. Wiwik pun menjerit-kerit dan tak lama
kemudian mengalir lendir dari vaginanya. Wiwik telah orgasme. Selanjutnya
kupermainkan lidahku dibibir vaginanya, menjilat-jilat klitorisnya dan lidahku
terus mengobok-obok vaginanya.

Aku mengambil napas sebentar. Kutinggalkan dia yang telanjang bulat ditempat
tidurku. “Mau kemana Om?” tanyanya. “Mau minum dulu, kulihat tadi kamu beli
minuman suplemen?” aku balik bertanya. “Oh, iya, tuh ambil di tas kresek hitam!”
perintahnya”jangan lama-lama lho Om, dingin nih” katanya lagi. Aku segera
mengambil sebotol dan meminum habis. Aku mulai menanggalkan pakaianku. Kini aku
dan Wiwik telah sama-sama telanjang bulat. Segera kudekati Dia dari arah kepala
kucium mulai keningnya, matanya, bibirnya, susunya, terus turun ke pusar dan
akhirnya tepat di vaginanya kuobok-obok lagi dengan lidahku. Wiwik pun segera
menangkap kontolku yang sudah tegang di atas mulutnya. Lidahku kumainkan di
lubang kewanitaanya, wiwik pun mengerang-erang namun kurang jelas katanya karena
kini sudah tersumbat oleh batang kontolku. Aku terus menjilat-jilat bibir
vaginanya, dan kontolku pun dikemot-kemot, disedot-sedot. “Ouh Wuk.. Oh.. Wuk,
terus Wuk, teruuss.. aku akan keluar Wuk” Dan tumpahlah spermaku dalam mulutnya
untuk kesekian kalinya dan semua cairannya ditelan habis.

Setelah istirahat dan minum suplemen, tak berapa lama aku segera berbalik dan
melanjutkan mengambil bonus. Perlahan-lahan kubuka pahanya yang putih mulus
dengan selangkangan yang sangat menantang. Perlahan-lahan kumasukkan batang
kontolku ke liang senggamanya. Sedikit demi sedikit masuklah kumasukkan batang
kontolku dan akhir semua batang kontolku masuk ke dalam memeknya. Kuangkat
sedikit lalu kusodokkan lagi, terus dan terus. Kuremas-remas susunya, kuremas
semakin lama semakin cepat. “Om, perih om, berhenti dulu Om” rintihnya. Namun
aku tak mempedulikannya. Kuremas-remas susunya, kuremas semakin lama semakin
cepat. Segera kugenjot lagi kontolku dalam vaginanya, terus dan terus.. “Ouh..
Ouh.. Omm.. Omm.. terus, teruss Om.. aku akan keluar lagi Om..” “Ouh Wuk.. Oh..
Wuk, aku juga akan keluar Wuk, kita bareng-bareng Wuk”. Akhirnya aku dan Wiwik
mncapai puncak bersama-sama.

Malam itu kami bermain sepuas-puasnya, dengan berbagai gaya dan posisi. Kemudian
kami tidur dengan satu selimut tebal masih dalam keadaan telanjang bulat sampai
pagi, lupa makan malamnya. Setelah kami berdua mandi dan sarapan pagi, segera
berkemas meninggalkan penginapan. Tak lupa kuberi tips pada petugas jaga pagi
itu. Kemudian kami menuju mobil dan segera melesat kembali ke kota. Aku antar
dulu Wiwik ke terminal bus. Sesampai di terminal bus, kami segera berpisah.
Kujabattangannya dengan erat. “Terimakasih ya Wuk atas bonusnya” kataku.
“Terimakasih kembali, Om, sampai jumpa di lain kesempatan” katanya sambil
melambaikan tangannya.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: